Prospek Dunia Perbukuan Indonesia 2021: Vivere Pericoloso

Oleh: Anton Kurnia

Pada awal tahun 2021 yang menyiratkan harapan baru ini saya ingin mengajak pembaca melongok situasi ekosistem perbukuan kita yang masih dihantui bayang-bayang kelabu pandemi yang melanda bumi, sekaligus mencoba menimbang prospeknya setahun ke depan.

Ekosistem perbukuan termasuk dalam subsektor penerbitan di ranah industri kreatif dan erat kaitannya dengan salah satu amanat konstitusi, yakni upaya mencerdaskan bangsa. Artinya, dunia perbukuan ini sesungguhnya amat penting dan strategis. Ketika kita berbicara tentang dunia perbukuan, kita tak hanya membahas soal korporasi penerbitan, baik penerbit besar maupun penerbit kecil atau penerbit indie.

Namun, kita juga berbicara tentang para pemangku kepentingan yang lebih luas dalam dunia perbukuan, termasuk para pekerja perbukuan seperti penulis, penerjemah, penyunting, komikus, ilustrator, desainer visual, toko buku, dan pembaca.

Ekonomi nasional yang terpuruk akibat pandemi Covid-19 sepanjang 2020 berdampak pada anjloknya produksi dan penjualan buku secara umum. Situasi itu cukup memukul industri penerbitan dan ekosistem perbukuan nasional.

Sebagai gambaran, dari data Toko Gramedia sebagai jaringan toko buku terbesar di Indonesia, pada 2020 hanya terdapat sekitar 7.400 judul buku baru yang beredar. Bandingkan dengan setahun sebelumnya di mana terdapat sekitar 13.800 judul buku baru. Artinya, terjadi penurunan produksi buku baru sebesar 46%. Sementara, dari sisi penjualan terdapat penurunan sekitar 20-60%.

Setelah dihajar kenyataan buruk pada 2020, para pelaku industri penerbitan tampaknya telah memiliki bekal menghadapi tahun 2021 yang penuh tantangan. Setidaknya, tak seperti tahun lalu di mana badai seakan datang tak terduga dan menohok tiba-tiba, kali ini insan perbukuan telah bersiap melakukan langkah-langkah antisipasi berdasarkan pengalaman survival sepanjang 2020.

Diperkirakan 2021 masih menjadi saat yang berat bagi dunia penerbitan. Semacam masa vivere pericoloso—hidup menyerempet bahaya. Salah perhitungan bisa berakibat fatal. Prioritasnya adalah bagaimana agar dapat melewati tahun ini secara aman. Survival adalah kunci. Untuk itu, target-target muluk dan hasrat pencapaian pertumbuhan terpaksa harus direm dahulu.

Di sisi lain, situasi pandemi menyingkap sejumlah peluang, antara lain peningkatan penjualan buku secara daring, termasuk penjualan buku berformat elektronik. Penerapan protokol kesehatan yang membuat orang tidak leluasa bepergian serta ditutupnya toko buku dan pusat keramaian untuk sementara menyebabkan orang lebih memilih membeli buku secara daring.

Menurut data dari Toko Gramedia, penjualan buku secara daring sepanjang 2020 melonjak hingga 260% dengan nilai penjualan meningkat sampai 226%. Lebih dari dua kali lipat. Sementara itu, penjualan buku digital secara umum naik hingga 20% pada tahun lalu.

Itu diamini pula oleh Ronny Agustinus, Editor in Chief Marjin Kiri, sebuah penerbit independen yang bermarkas di Tangerang Selatan. Mengaku sempat terpuruk hingga pertengahan 2020 akibat dihajar pandemi dan berbagai akibatnya, Marjin Kiri yang banyak menerbitkan buku ilmu sosial dan sastra tertolong oleh penjualan daring dalam bertahan melintasi badai.

“(Penjualan) 2020 naik sedikit dari 2019. Waktu drop (awal 2020) sempat anjlok sampai 55%. Kami (melakukan) diversifikasi, misal sekarang ada lini buku anak-remaja. Kenaikan total 2020 sekitar 18%. Ya lumayan untuk masa-masa gila seperti kemarin,” kata Ronny saat saya wawancarai via WA.

Namun, sisi gelapnya adalah masih maraknya pembajakan buku di mana banyak orang mendistribusikan buku digital secara ilegal dan menjual buku-buku bajakan di berbagai platform penjualan daring. Meskipun para pemangku kepentingan di dunia perbukuan seperti penerbit dan penulis tak putus menjerit atas fenomena ini, pemerintah sebagai pihak yang berwenang tampaknya tak kunjung mengambil langkah tegas untuk mengatasi persoalan ini.

Sementara itu, upaya kreatif lain yang dilakukan oleh penerbit dan insan perbukuan untuk menghidupkan ekosistem literasi antara lain dengan melakukan acara-acara diskusi dan pasar buku secara daring. Ini tampaknya masih menjadi jalan alternatif andalan pada 2021.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, sejumlah negara melakukan upaya antisipasi untuk mengatasi situasi memprihatinkan di dunia perbukuan. Mereka mengaktifkan perpustakaan untuk bisa diakses secara daring oleh masyarakat, termasuk memberikan insentif kepada perpustakaan untuk membeli buku-buku daring dari penerbit dan pembelian buku-buku elektronik dan audio kepada penerbit. Jika kondisi pandemi ini terus berlanjut tanpa ada bantuan strategis dari pemerintah, sebagian penerbit mungkin akan berguguran.

Melihat persoalan ini, saya mengusulkan agar pemerintah segera melakukan langkah-langkah antisipasi pada 2021 ini, antara lain dengan memberlakukan penghapusan atau pengurangan pajak. Perlu dilakukan juga program-program penguatan dan subsidi pendanaan, misalnya pendanaan penerjemahan buku.

Pemerintah juga perlu memikirkan peran strategis Indonesia dalam percaturan dunia perbukuan internasional. Setelah sempat dipercayai sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015 dan Market Focus Country di London Book Fair 2019, serta aktif dalam berbagai pameran buku internasional untuk mempromosikan kekayaan literasi nasional, upaya itu mandek sejak Komite Buku Nasional (KBN) yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada awal 2016 dinyatakan selesai masa tugasnya pada akhir 2019. Sejak itu, tak ada lagi lembaga yang mengurusi hal ini. Ini diperparah dengan pandemi yang merajalela secara global sehingga banyak kegiatan perbukuan internasional dihentikan sementara atau hanya diselenggarakan secara daring.

Pada 2021 ini kita berharap pemerintah kembali memberikan perhatian pada upaya-upaya positif dalam mempromosikan potensi dan kekayaan industri kreatif nasional di pentas dunia, utamanya dalam ranah perbukuan.

Upaya positif lain yang bisa dilakukan pemerintah dalam membantu ekosistem perbukuan adalah pembelian buku pengayaan—seperti karya sastra—dalam jumlah besar untuk dibagikan secara gratis kepada para siswa atau perpustakaan. Hal ini akan membantu penulis sekaligus penerbit. Ini juga akan mempermudah masyarakat dalam mengakses dan membaca buku. Dengan demikian, upaya ini dapat bermanfaat dalam pembinaan literasi membaca bagi khalayak luas di tengah situasi pandemi.

Sementara itu, jika kita melihat kecenderungan yang berkembang pada 2020, buku anak menyalip buku fiksi sebagai bukuterlaris (berdasarkan data dari Toko Gramedia). Jika pada 2019 buku fiksi menguasai pasar dengan penjualan hampir 18%, pada 2020 buku anak unggul dengan meraih pangsa 16,6%, menggeser buku fiksi di tempat kedua dengan selisih 0,4%. Tampaknya ini akan berlanjut pada 2021.

Anak-anak yang masih mengikuti program belajar dari rumah akibat pandemi membutuhkan pasokan bacaan dan itu membuat penjulan buku anak meningkat. Selain buku anak, jenis buku yang terus meningkat peminatnya adalah pengembangan diri dan parenting.

Badai belum berlalu, bahkan bisa jadi bakal berkecamuk kian dahsyat. Kita berharap untuk sanggup bertahan dan berjuang dalam masa sulit yang tampaknya masih mengungkung kita tahun ini. Salah satu kuncinya adalah kolaborasi dan saling bantu di antara segenap pemangku kepentingan di dunia perbukuan. Lebih baik lagi jika pemerintah mau peduli dan sigap bertindak mengantisipasi persoalan.

*Anton Kurnia, penulis partikelir dan praktisi perbukuan.

Get connected with us on social networks:
YAYASAN PULAU IMAJI

We are a non-profit organization working to improve the quality of literary and creative content in Indonesia.

OFFICE

Jl. Pulo Nangka Tengah No.29, RW.8, Pulo Gadung, Kec. Kemayoran, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13260

CONTACT

contact@pulauimaji.org

+ +62 42886726

© 2021 Copyright: pulauimaji.org